Haedar Nashir Ungkap Ketidakpuasan Jadi Akar Tunjang Korupsi Tak Berkesudahan

Publish

26 March 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
88
Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyoroti kasus korupsi yang makin tak terbendung terjadi di tubuh bangsa. Menurutnya, akar tunjang dari fenomena tersebut berasal dari hidup merasa kurang dan ketidakpuasan yang terus-menerus.

“Coba lihat mereka yang melakukan korupsi, itu kan pada umumnya mereka bukan yang kekurangan. Mengapa kok masih korupsi? Karena merasa kurang terus,” sebutnya Selasa (25/3) di Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta saat Silaturahmi dengan Media yang dihadiri Ketua dan Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto, Agus Taufiqurrahman, Muhammad Sayuti, dan Rektor UAD Muchlas.

Orang yang berbuat korupsi—selanjutnya disebut koruptor—hendaknya perlu mereformasi diri. Dengan mengubah paradigma menumbuhkan semangat berbagi kepada orang lain, niscaya orang lain akan merasakan kebahagiaan sekaligus kebermanfaatannya.

“Jadi energinya positif. Bahkan ketika ada orang berkesempatan untuk korupsi dia tidak jadi. Karena betapa hinanya saya ketika banyak warga bangsa yang memerlukan pertolongan, kok dengan mengambil uang negara,” katanya.

Haedar menyebut, jika setiap para pemimpin dan elite menerapkan spirit tersebut dalam ruang lingkup kehidupan keberagamaan, Ia percaya akan terjadi pengurangan kasus korupsi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan korupsi tidak bakal terjadi kembali.

“Kita coba lakukan pendekatan dengan kegembiraan beragama, ketulusan beragama, beragama dengan tengahan. Saya yakin ada proses yang signifikan, di mana agama dan umat beragama punya kontribusi besar untuk membangun keadaban bangsa, bahkan juga mencegah hal-hal buruk dalam kehidupan kebangsaan,” jelasnya.

Karena itu, Muhammadiyah telah menyebarluaskan paham keagamaan bersifat tawasuth (tengahan, moderat). Yang menumbuhkan kegembiraan, ketulusan, semangat berbagi, bahkan semangat untuk saling memajukan sesama. 

“Lalu agama tidak diberi beban-beban yang berlebih, di luar kapasitasnya. Dan ini pun saya pikir menjadi energi kolektif bangsa ini. Itu yang perlu kita hidupkan sekarang ini,” ulasnya.

Bersamaan dengan itu, Guru Besar Sosiologi UMY tersebut menambahkan bahwa kegembiraan dalam beragama sejatinya dapat diterapkan dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan.

“Hal itu tentu penting dalam membangun ekosistem bangsa. Dalam kehidupan bernegara, kita bisa teladani tokoh-tokoh bangsa yang lahir pada perjuangan kemerdekaan,” tekannya.

Dalam konteks kehidupan sosial, ia menekankan bahwa nilai-nilai agama yang dijalankan dengan penuh kesadaran akan melahirkan etika sosial yang kuat. Hal ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang harmonis, tetapi juga memperkuat integritas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pemerintahan dan birokrasi. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Bertekad Miliki Daya Saing Internasional Mengkaji Etics and Digital Governance MAKASSAR, Suara Muha....

Suara Muhammadiyah

27 September 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Siang itu Veritas Room 3501 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politi....

Suara Muhammadiyah

11 July 2024

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Pasca terbitnya UU No.17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Program Studi Magi....

Suara Muhammadiyah

25 November 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama organisasi otonom tingkat pusat....

Suara Muhammadiyah

28 July 2024

Berita

PONOROGO, Suara Muhammadiyah - Unit Kegiatan Mahasiswa Tapak Suci Universitas Muhammadiyah Ponorogo ....

Suara Muhammadiyah

21 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah